SEMARANG — Capaian 97 persen partisipasi anak usia dini di Kota Semarang bukan sekadar angka. Di balik keberhasilan itu, terdapat dedikasi ribuan Bunda PAUD yang mengabdikan diri untuk memastikan setiap anak memiliki akses pendidikan sejak dini.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyampaikan apresiasinya kepada para Bunda PAUD saat membuka Konferensi Bunda PAUD Kota Semarang 2025 di Hotel Grasia, Selasa (21/10). “Menjadi Bunda PAUD bukan soal jabatan, tapi soal hati yang tulus mengabdi,” kata Agustina.
Ia menilai keberadaan Bunda PAUD menjadi faktor kunci dalam menggerakkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini. Menurutnya, Bunda PAUD adalah “jembatan kasih” antara keluarga, sekolah, dan pemerintah.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bambang Pramusinto, melaporkan bahwa peningkatan partisipasi PAUD juga diikuti dengan kemajuan kualitas guru. Saat ini, hampir 7 dari 10 pendidik PAUD telah memiliki gelar sarjana.
Sebagai bentuk dukungan, Pemkot Semarang menyalurkan bantuan transportasi bagi 1.487 guru PAUD. Program tersebut menjadi langkah konkret untuk menjaga semangat para pendidik di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
Agustina mengingatkan pentingnya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. “PAUD bukan sekadar tempat belajar huruf dan angka, tapi ruang untuk menumbuhkan karakter, empati, dan keberanian anak,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Agustina juga menyinggung komitmen pemerintah untuk tetap memprioritaskan pendidikan meski menghadapi keterbatasan fiskal. Ia menegaskan bahwa pembangunan manusia tidak bisa ditunda.
“Pendidikan dan kesehatan adalah dua hal yang tidak boleh dikorbankan. Karena di sanalah masa depan bangsa ditentukan,” tegasnya.
Konferensi Bunda PAUD juga diisi dengan peluncuran web resmi Bunda PAUD Semarang dan penyerahan bantuan alat permainan edukatif bagi lembaga PAUD.
Momentum ini menjadi ajang silaturahmi dan refleksi bagi seluruh Bunda PAUD, guru, dan penggiat pendidikan anak usia dini di Kota Semarang.
“Capaian ini adalah hasil gotong royong. Bunda PAUD telah menjadi tulang punggung perubahan sosial melalui pendidikan,” ujar Bambang.
Ke depan, Pemkot Semarang menargetkan partisipasi PAUD bisa mencapai 100 persen dengan dukungan program inklusif bagi anak berkebutuhan khusus.
Kota Semarang kini menjadi contoh keberhasilan model kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan dunia pendidikan.
Reporter: Ismu Puruhito
